Menahan lapar dengan minum air putih selama 2 hari, Yuli Akhirnya Meninggal



 Sejak Rabu pagi, 22 April 2020, beredar sebuah surat pernyataan dari suami almarhumah Ibu Yulie, yang diberitakan meninggal karena kelaparan. Dia hanya meminum air galon untuk menahan laparnya selama dua hari.

Ibu Yulie meninggal dunia pada Senin, 20 April 2020 sekitar pukul 15.00 WIB. Usai pemberitaan itu, keluarga Ibu Yulie mendapatkan bantuan dari relawan dan berbagai institusi.

Namun, sang suami, M Kholik membuat surat pernyataan yang ditandatangani pada Selasa, 21 April 2020. Berikut isi lengkap surat pernyataan yang beredar:

Surat Pernyataan

Saya Muhamad Holik suami dari almarhumah Ibu Yuli Nur Amelia ingin mengklarifikasi bahwa pemberitaan yang beredar di media sosial, media online dan media elektronik yang memberitakan bahwa istri saya meninggal karena kelaparan atau tidak makan selama dua hari itu tidak benar. Tetap istri saya menjnggal karena kecapean atau kelelahan.

Demikian surat pernyataan klarifikasi Ini saya buat dengan penuh kesadaran tanpa paksaa dari siapapun.

Serang, 21 April 2020

M. Kholik

Suami Almh Ibu Yuli N.A

Tak hanya surat yang beredar, sebuah video pun beredar di jagad media sosial (medsos). Video berdurasi 1,52 menit itu memperlihatkan suami Yulie mengenakan kaus warna hijau. Di sampingnya berdiri seorang wanita berpakaian putih mengenakan masker yang mengaku perwakilan dari keluarga almarhumah Ibu Yulie, dan seorang pria mengenakan kemeja merah.

Kemudian, di belakang, terdapat tiga pria berdiri. Video itu diambil di sebuah ruangan. Terdengar ada suara seseorang yang coba mengarahkan ucapan dari keduanya.

Dalam video itu, sang suami menyanggah pemberitaan mengenai penyebab kematian istrinya karena kelaparan. Menurutnya, sang istri meninggal karena penyakit.

"Saya menyatakan bahwa istri saya meninggal karena kelaparan itu tidak benar. Tapi istri saya itu meninggal karena kecapekan, kelelahan," ujar M Kholik.

Sementara itu, wanita yang mengenakan baju putih dan masker, meminta awak media tidak lagi memberitakan dan membesar-besarkan berita keluarga Ibu Yulie.

"Saya mewakili keluarga Ibu Yulie, saya menyatakan bahwa pemberitaan yang beredar di media sosial, elektronik, meninggal karena kelaparan itu tidak benar. Melainkan meninggal karena kelelahan atau kecapekan, bukan karena kelaparan atau tidak makan selama dua hari. Dan saya minta ke awak media untuk tidak membesar besarkan pemberitaan tersebut," begitu ucapan sang wanita.

Masih dalam video yang sama, pada menit ke 1.32 tepatnya, sang wanita juga mengucapkan terima kasih kepada Brimob Polda Banten karena telah membantu menyiarkan dan mengklarifikasi pemberitaan yang ada.

"Terima kasih kepada Brimob Polda Banten yang telah membantu keluarga besar kami untuk mengklarifikasi pemberitaan di media," ucapnya.

Disebut-sebut dalam video itu, Kabid Humas Polda Banten, Kombes Pol Edy Sumardi, mengaku bahwa tidak mungkin Brimob Polda Banten memberikan bantuan klarifikasi dari institusi. Polda Banten hanya memberikan bantuan sembako kepada keluarga Ibu Yulie, kemudian melakukan kegiatan bagi-bagi sembako, nasi bungkus, dan menggelar dapur umum untuk membantu masyarakat terdampak covid-19.

"Kalau saya analisa, tidak benar itu ada bantuan klarifikasi. Kita sedang fokus kepada penanggulangan covid dan membantu warga yang terdampak ekonomi dengan gelar dapur umum, bagi nasi dan bagi sembako saja," kata Kabid Humas Polda Banten, Kombes Pol Edy Sumardi, saat dikonfirmasi melalui pesan singkatnya, Rabu (22/4/2020).